KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang maha pengasih lagi
maha penyayang.Berkat rahmat taufik dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Makalah ini berkat bantuan dan tuntutan Allah SWT, dan semua pihak
dari kelompok kami.Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun
demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang
dimilliki kami sehingga dapat selesai.Kami dengan rendah hati dan dengan tangan
terbuka menerima masukan saran dan usulan guna penyempurnaan makalah ini.Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Bengkulu, 09 Maret 2015
PERKEMBANGAN
TERAKHIR DAN MASA DEPAN GENETIKA TERMAKSUT (PCR)
A. PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai
ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap, awal mulanya adalah dari
usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkap material yang diwariskan dari satu
generasi ke generasi yang lain.ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah
material yang membawa bahan terwariskan itu (disebut gen) maka itulah awal mula
ilmu ini. tentu saja, penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok
karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat
diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang adalah suatu polimer bervariasi.
Tahap-tahap
penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA,
regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari penemuan operon laktosa pada
prokariota), perakitan teknik PCR, transformasi genetik, teknik peredaman gen
(termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah (seperti
Tilling).Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang
biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting
dalam kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.
perkembangan genetika pada saat ini
telah sangat pesat. Sejak struktur DNA diketahui dan juga kode genetika sudah
dapat dipecahkan maka perkembangan di bidang genetika akan lebih pesat lagi.
Beberapa ahli biomolekuler berhasil melakukan rekayasa genetika, seperti
pemotongan gen yang terkontrol, dan rekombinasi DNA yang dilakukan dengan
proses kloning DNA (kloning gen). Rekayasa genetika melalui DNA rekombinan atau
kloning gen secara in vitro dapat menciptakan rekombinasi genetik yang tidak
terbatas dan dengan menggunakan teknik ini telah dihasilkan berbagai zat,
misalnya insulin pada manusia, hormon pertumbuhan manusia, interferon alfa, dan
vaksin hepatitis B.
perkembangan bioteknologi secara
drastis terjadi sejak ditemukannya struktur helik ganda DNA dan teknologi DNA
rekombinan di awal tahun 1950-an. Ilmu pengetahuan telah sampai pada suatu
titik yang memungkinkan orang untuk memanipulasi suatu organisme di taraf
seluler dan molekuler. Bioteknologi mampu melakukan perbaikan galur dengan
cepat dan dapat diprediksi, juga dapat merancang galur dengan bahan genetika
tambahan yang tidak pernah ada pada galur asalnya.Memanipulasi organisme hidup
untuk kepentingan manusia bukan merupakan hal yang baru. Bioteknologi molekuler
menawarkan cara baru untuk memanipulasi organisme hidup dan Perkembangan
teknologi mutakhir diiringi dengan perkembangan dibidang biokimia dan biologi
molekuler melahirkan teknologi enzim dan rekayasa genetika.
Rekayasa genetika bermain pada tingkat
molekuler khususnya DNA. Beberapa tahapan yang digunakan dalam rekayasa genetika yaitu isolasi DNA, manipulasi DNA, perbanyakan DNA dan
visualisasi hasil manipulasi DNA, DNA rekombinan, dan Kloning Gen.
1. Isolasi
DNA
Belakangan ini kita sering mendengar kata DNA
di berbagai media, baik cetak maupun
elektronik. Setelah terjadinya peristiwa peledakan bom, kasus pemerkosaan
ataupun pembunuhan maka biasanya tim penyelidik dari kepolisian akan
mengirimkan sampel untuk analisa DNA yang dikenal dengan istilah uji sidik
DNA.DNA yang merupakan asam nukleat pembawa pesan genetik dalam kehidupan
terletak di dalam sel dan tersusun rapi membentuk kromosom.
pola DNA penyusun kromosom inilah yang
menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus yang berbeda antara
satu individu dengan lainnya. Karena perbedaan DNA yang dimiliki oleh seseorang
inilah metode sidik DNA menjadi salah satu alat pembuktian yang cukup handal.
Namun karena letaknya yang ada didalam sel maka untuk mendapatkan DNA
diperlukan tahap-tahap khusus yang
biasanya dilakukan di laboratorium
tertentu.
DNA dapat diisolasi dari semua bagian tubuh
misalnya dari daging, darah, sperma,
ginjal, jantung, hati, dan lain-lain. Begitu pun untuk tanaman, DNA
dapat diambil dari semua bagian. DNA juga bisa diperoleh dari spesimen yang
berumur ratusan tahun atau fosil.
Untuk mengeluarkan DNA dari sel maka teknik
pemurnian DNA secara biokimia dilakukan dengan merusak dinding sel yang telah
dilarutkan dalam larutan penyangga
tertentu dengan menggunakan berbagai jenis deterjen. Dengan terbukanya lapisan
sel maka DNA dapat dikeluarkan dan diendapkan dengan penambahan alkohol.
2. Manipulasi DNA
Untuk memanipulasi DNA, diperlukan beberapa
perangkat penting meliputi “gunting”
untuk memotong molekul DNA,
“lem/perekat” untuk menggabungkan molekul DNA, dan “gergaji” untuk
membelah molekul DNA.
1. Pemotongan molekul DNA
Pada proses pemotongan molekul DNA, “gunting” yang dimaksud
bukanlah gunting yang biasa kita pakai untuk memotong sesuatu, tetapi merupakan
suatu enzim yang dihasilkan oleh
mikroorganisme tertentu. Enzim ini dikenal dengan nama enzim restriksi. Setiap
enzim restriksi mempunyai tempat pemotongan yang spesifik pada suatu urutan
molekul DNA. Sebagai contoh adalah enzim EcoRI yang selalu memotong DNA pada
posisi G ! AATTC (tanda ! merupakan
tempat pemotongan).
2. Penggabungan molekul DNA
Proses penggabungan (ligasi) antara dua
molekul DNA menggunakan lem/perekat berupa enzim, yang dikenal dengan nama
enzim ligase. Enzim ini berfungsi mensintesis pembentukan ikatan fosfodiester
yang menghubungkan nukleotida yang satu dengan nukleotida di sebelahnya.
Berikut adalah contoh penggabungan dua molekul DNA (A dan B) menjadi molekul AB
:
Jadi, fungsi DNA ligase hanya membuat ikatan
fosfodiester yang menghubungkan basa G dan basa C pada urutan DNA bagian atas,
dan basa C dengan basa A pada urutan DNA bagian bawah.
3. Polymerase Chain
Reaction (PCR)
PCR merupakan suatu reaksi enzimatis untuk melipatgandakan suatu
urutan nukleotida tertentu secara in
vitro. Metode ini dikembangkan pertama kali
oleh Kary B. Mulis pada tahun 1985. Dengan menggunakan metode PCR, akan
diperoleh pelipatgandaan suatu fragmen DNA sebesar 200.000 kali melalui 20
siklus reaksi selama 220 menit. Pembelahan molekul DNA sangat penting dalam
proses amplifikasi DNA melalui teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) atau
reaksi berantai polimerase. Seperti telah diketahui bahwa molekul DNA selalu
dalam keadaan berpasangan (double stranded
DNA),dan untuk membelah molekul DNA digunakan “gergaji” yang bisa berupa
pemanasan (suhu ≥ 90 oC) atau dengan larutan NaOH (konsentrasi 0,4
M).
Empat komponen utama dalam proses PCR adalah :
1.
DNA cetakan yaitu fragmen
DNA yang akan dilipatgandakan.
2.
Oligonukleotida primer,
yaitu suatu urutan nukleotida pendek ( 15-25 basa nukleotida), digunakan untuk
mengawali sintesis rantai DNA.
3.
Deoksiribonukleotida
trifosfat (dNTP), terdiri atas dATP, dCTP, dGTP, dan dCTP .
4.
Enzim DNA polimerase, yaitu
enzim yang mengkatalisis reaksi sintesis DNA.
PCR melibatkan banyak siklus yang
masing-masing mempunyai tiga tahapan berulang yaitu denaturasi DNA cetakan pada suhu 94-100 oC, annealing
(penempelan) pasangan primer pada DNA target pada suhu 37-60 oC, dan extension
(pemanjangan) primer pada suhu 72 oC (Gambar 3.).
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dapat dicari beberapa rumusan masalah yang dapat dibahas, antara lain:
Dari latar belakang tersebut, maka dapat dicari beberapa rumusan masalah yang dapat dibahas, antara lain:
- Apa yang dimaksud dengan
Polymerase Chain Reaction (PCR)?
- Apasaja tahapan-tahapan
Polymerase Chain Reaction (PCR)?
- Alat dan bahan apa saja yang
dibutuhkan dalam Polymerase Chain Reaction (PCR)?
- Apakah komponen-komponen yang
dibutuhkan dalam proses Polymerase Chain Reaction (PCR)?
- Apa saja variasi dari
Polymerase Chain Reaction (PCR)?
- Apa saja manfaat dari
Polymerase Chain Reaction (PCR)?
Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut, maka beberapa tujuan yang ingin dicapai anatara lain:
Dari rumusan masalah tersebut, maka beberapa tujuan yang ingin dicapai anatara lain:
- Untuk mengetahui apa yang
dimaksud dengan pengendalian ekspresi genetik
- Untuk mengetahui apa yang
dimaksud dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
- Untuk mengetahui apa saja
tahapan-tahapan Polymerase Chain Reaction (PCR).
- Untuk mengetahui alat dan bahan
apa saja yang dibutuhkan dalam Polymerase Chain Reaction (PCR).
- Untuk mengetahui apakah
komponen-komponen yang dibutuhkan dalam proses Polymerase Chain Reaction
(PCR).
- Untuk mengetahui apa saja
variasi dari Polymerase Chain Reaction (PCR).
- Untuk mengetahui apa saja
manfaat dari Polymerase Chain Reaction (PCR).
Definisi Polymerase Chain Reaction (PCR)
Reaksi berantai polimerase atau lebih umum dikenal sebagai
PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan suatu teknik atau metode perbanyakan
(replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Dengan teknik
ini, DNA dapat dihasilkan dalam jumlah besar dengan waktu relatif singkat
sehingga memudahkan berbagai teknik lain yang menggunakan DNA.
Tahapan-Tahapan
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Proses PCR terdiri dari tiga tahapan, yaitu denaturasi DNA templat, penempelan (annealing) primer, dan polimerisasi (extension) rantai DNA. Denaturasi merupakan proses pemisahan utas ganda DNA menjadi dua utas tunggal DNA yang menjadi cetakan (templat) sebagai tempat penempelan primer dan tempat kerja DNA polimerase, dengan pemanasan singkat pada suhu 90-95°C selama beberapa menit 4. Elektroforesis
Proses PCR terdiri dari tiga tahapan, yaitu denaturasi DNA templat, penempelan (annealing) primer, dan polimerisasi (extension) rantai DNA. Denaturasi merupakan proses pemisahan utas ganda DNA menjadi dua utas tunggal DNA yang menjadi cetakan (templat) sebagai tempat penempelan primer dan tempat kerja DNA polimerase, dengan pemanasan singkat pada suhu 90-95°C selama beberapa menit 4. Elektroforesis
Untuk menganalisis hasil manipulasi DNA dapat
dilihat melalui elektroforesis.
Elektroforesis adalah suatu teknik yang menggunakan medan listrik untuk
memisahkan molekul berdasarkan ukuran. Karena mengandung fosfat yang bermuatan negatif, DNA akan bergerak menuju
elektroda positif dalam medan listrik.
Prinsip alat ini adalah :
kecepatan migrasi molekul DNA berbeda-beda tergantung pada beberapa faktor diantaranya ukuran molekul.
Molekul yang lebih pendek akan bermigrasi
lebih cepat melalui pori-pori gel daripada molekul yang lebih panjang. Ada dua
jenis gel yang sering digunakan untuk proses elektroforesis, yaitu gel agarose
dan gel polyacrilamida. Gel agarosa,
digunakan untuk memisahkan molekul-molekul DNA yang perbedaan panjangnya hanya
satu nukleotida dan digunakan untuk menentukan urutan basa DNA. Gel
poliakrilamid digunakan untuk memisahkan fragmen DNA yang memiliki perbedaan
ukuran lebih besar.
Pita DNA pada gel dapat dilihat dengan
menggunakan berbagai teknik. Pemberian zat warna ethidium bromide, memungkinkan
visualisasi langsung semua pita DNA di bawah sinar UV dengan menggunakan alat
transiluminator dan dilakukan pada ruangan khusus yang gelap.Hasil visualisasi
DNA kemudian difoto.Urutan yang spesifik biasanya dapat dideteksi dengan probe
berlabel. Probe adalah DNA untai tunggal yang dapat membentuk pasangan basa
dengan uruan komplementer pada polinukleotida untai tunggal lain yang tersusun
dari DNA atau RNA.
5. Pengurutan DNA
Urutan nukleotida DNA dari sebagian besar
organisme masih tidak diketahui. Mengetahui urutan dari DNA suatu oganisme atau
suatu klon fragment DNA memberikan informasi yang sangat berharga untuk studi
lanjutan. Urutan dari suatu gen dapat digunakan untuk memprediksi fungsi dari
gen, untuk membandingkannya dengan urutan yang sama dari organisme yang
berbeda, dan untuk mengidentifikasi mutasi atau keselahan dalam urutan DNA.Hal
ini karena genom dari sebagian besar organisme terdiri dari milyaran nukleotida
seh ingga molekul DNA yang digunakan untuk reaksi sekuensing harus dipotong
terlebih dahulu menjadi fragmen yang lebih kecil dengan menggunakan enzim
restriksi.Masing-masing nukelotida dalam jumlah sedikit diberi pewarna
fluorescen (berpendar) yang juga
memodifikasi struktur nukleotida. Apabila sebuah nukelotida
modifikasi berfluorescent bergabung dalam rantai sintesis baru, maka reaksi
akan berhenti. Hal ini akan menghasilkan rantai DNA dengan panjang yang berbeda-beda.
Reaksi sekuensing sudah lengkap jika fragment DNA dipisahkan dengan menggunakan
elektroforesis gel. Gel kemudian dianalisis dalam suatu mesin sekuensing
otomatis untuk mendeteksi warna dari masing-masing nukelotida bertanda. Urutan
dari cetakan DNA asal akan terlihat dari perbedaan fragmen bertanda.
6. DNA rekombinan
Secara alami, proses rekombinasi dapat terjadi sehingga
memungkinkan suatu gen dapat berpindah dari satu organisme ke organisme lain.
Persitiwa tersebut biasanya terjadi diantara organisme yang memiliki
kekerabatan yang dekat. Dengan kemajuan
teknologi molekuler, perpindahan gen dapat terjadi meskipun antara organisme
yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Misalnya gen manusia yang dipindahkan
ke bakteri atau ke hewan seperti babi. Teknik penggabungan molekul DNA tersebut
dikenal sebagai Teknik rekombinan DNA.Untuk membuat DNA rekombinan digunakan
dua macam enzim yaitu enzim restriksi yang berfungsi memotong molekul DNA dan
enzim ligase yang berfungsi menggabungkan molekul DNA. Proses masuknya DNA
rekombinan ke sel bakteri disebut
transformasi, dan proses ini dapat menyebabkan fenotip sel bakteri mengalami
perubahan. Untuk mengetahui sel bakteri telah mengandung DNA rekombinan, maka
sel bakteri ditumbuhkan dalam medium padat yang mengandung antibiotik, X-gal (
zat kimia yang berfungsi sebagai indikator) dan IPTG (zat kimia yang berfungsi
sebagai inducer). Jika sel bakteri
tersebut mengandung DNA rekombinan, maka terdapat koloni berwarna putih pada
kultur medium Padat.Penggunaa teknik DNA
rekombinan untuk diagnosis penyakit dengan memanfaatkan sifat polimorfisme
DNA.Seperti diketahui bahwa polimorfisme dalam genom berfungsi sebagai dasar
bagi penggunaan teknik DNA rekombinan dalam diagnostik penyakit.Polimorfisme
adalah variasi dalam urutan DNA.Dalam genom manusia terdapat jutaan
polimorfisme yang berlainan. Yang pertama kali diidentifikasi adalah mutasi
titik, substitusi (penggantian) satu basa oleh basa lain.Penelitian selanjutnya
menunjukkan bahwa delesi (penghilangan) dan insersi (penyisipan) juga
bertanggung jawab atas variasi dalam urutan DNA. Sebagian polimorfisme terjadi
di dalam daerah pengkode gen. Untuk mendeteksi adanya polimorfisme menggunakan
polimorfisme panjang fragmen restriksi (RFLP :
restriction fragment length polymorphism)
7. Kloning Gen
Kloning merupakan
suatu teknik untuk menghasilkan
banyak salinan dari satu gen tunggal, kromosom, atau keseluruhan individu.Klon
(clone) berasal dari kata Yunani yang berarti ranting.Jaringan-jaringan non
reproduktif digunakan untuk pengklonan keseluruhan individu. Secara alami, seringkali proses kloning
terjadi. Misalnya pada tanaman kentang yang mampu berkembang biak
secara vegetatif yaitu mampu menghasilkan tanaman baru dari tuber (umbi). Dalam
hal ini, kentang bisa dikatakan mengalami proses kloning.
Kloning dapat diartikan perbanyakan sel
maupun individu secara vegetatif sehingga menghasilkan individu yang identik
sama dan seragam dengan induknya.Kloning juga terjadi karena pengaruh atau
campur tangan manusia. Kultur jaringan atau mikropropagasi merupakan salah satu
cara perbanyakan tanaman dengan menempatkan sejumlah kecil sel yang berasal
dari tanaman induk yang kemudian ditumbuhkan dalam medium kaya nutrien yang
mengandung hormon pertumbuhan.Secara konvensional, kloning dapat dilakukan pada
tumbuhan, misalnya setek batang dan setek daun, menyambung, dan mencangkok.
Adapun secara modern dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan.
Kloning DNA adalah memasukkan DNA asing ke dalam plasmid suatu sel
bakteri, DNA yang dimasukkan ini akan bereplikasi dan diturunkan pada sel anak
pada waktu sel tersebut membelah. Jadi gen asing ini tetap melakukan fungsi
seperti sel asalnya, walaupun berada dalam sel bakteri. Pembentukan DNA
rekombinan ini disebut juga rekayasa genetika. Perekayasaan genetika terhadap
satu sel dapat dilakukan dengan hanya menghilangkan, menyisipkan atau
menularkan satu atau beberapa pasang basa nukleotida penyusun molekul DNA
tersebut. Untuk kloning ini diperlukan plasmid dan enzim untuk memotong DNA,
serta enzim untuk menyambungkan gen yang disisipkan itu ke plasmid.
Dalam melakukan pengklonan suatu DNA asing
atau DNA yang diinginkan atau DNA sasaran harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut.
1.
DNA plasmid vektor harus
dimurnikan dan dipotong dengan enzim yang sesuai sehingga terbuka. DNA yang
akan disisipkan ke molekul vektor untuk membentuk rekombinan buatan harus
dipotong dengan enzim yang sama.
2.
Reaksi pemotongan dan
penggabungan harus dipantau dengan menggunakan elektroforesis gel.
3.
Rekombinan buatan harus
ditransformasikan ke E. coli atau ke vektor lainnya.
4.
Tahapan proses kloning DNA
(gambar 9) adalah melakukan isolasi DNA plasmid dan DNA target.
5.
Menggunakan enzim restriksi
untuk memotong DNA sehingga diperoleh fragment DNA target.
6.
Selanjutnya DNA target
disisipkan pada plasmid dan ditransformasikan ke dalam sel inang.
7.
Hasilnya akan diperoleh
bakteri yang mengandung DNA rekombinan dan ada pula bakteri yang tidak
mengalami proses transformasi.Untuk membedakannya, digunakan medium selektif
yang mengandung antibiotik.Bakteri yang mengandung DNA rekombinan mengandung
gen yang resisten terhadap antibiotik sehingga akan tetap hidup dalam medium
selektif.
8.
Bakteri rekombinan
diperbanyak dengan cara kloning sehingga diperoleh klon-klon dalam jumlah yang
besar yang bias digunakan dalam berbagai bidang seperti untuk menemukan gen
yang resisten hama, gen yang bisa membuat bakteri membersihkan toksik, gen
untuk meghasilkan hormon, dan lain-lain.Karena
adanya teknik rekayasa genetika di atas maka dengan mudah kita menciptakan
suatu bioteknologi molekuler terbaru yang dapat bemanfaat, contohnya pada
organisme transgenik yang dihasilkan dari rekayasa genetika. Ada 3 macam
organisme transgenik yang telah ditemukan saat ini, yaitu:
1. Hewan transgenik
Beberapa organisme
transgenik telah dihasilkan untuk meningkatkan pasokan makanan dan kesehatan
manusia.Kambing transgenik telah direkayasa untuk mensekresi protein yang
disebut anti trombin III, yang digunakan untuk mencegah manusia membentuk
gumpalan-gumpalan darah selamaoperasi.
Para peneliti
berupaya untuk menghasilkan ayam dan kalkun transgenik yang tahan terhadap
penyakit.Beberapa spesies ikan juga telah direkayasa secara genetis untuk
tumbuh lebih cepat. Di masa depan, transgenik organisme dapat digunakan sebagai
sumber organ untuk transplantasi organ.
2. Tanaman transgenik
Pada tahun
2003,sekitar 67.7 juta hektar telah
ditanami dengan tanaman
transgenik oleh 7 juta petani di 18
negara. Tanaman ini termasuk kedelai,
jagung, kapas, dan canola tahan herbisida
dan insektisida. Rekayasa genetika
juga dilakukan untuk menghasilkan kapas, seperti tahan terhadap hama serangga.
selain itu, para
peneliti juga mengembangkan kacang dan kedelai yang tidak menyebabkan reaksi
alergi. Tanaman lain yang ditanam secara komersial dan telah diuji termasuk tanaman ubi jalar yang
resisten terhadap virus yang dapat
mengurangi panen di
sebagian besar Afrika, tanaman padi dengan mengandung besi dan vitamin yang bisa
mengurangi kekurangan gizi di negara-negara Asia, tanaman mampu
bertahan kondisi cuaca ekstrim,
tanaman pisang yang memproduksi vaksin untuk penyakit menular, seperti
hepatitis B, dan tanaman yang memproduksi plastik biodegradable.
3. Bakteri Transgenik
Insulin, hormon
pertumbuhan, dan zat yang melarutkan
gumpalan darah dapat dibuat oleh bakteri
transgenik. Transgenik bakteri juga memperlambat pembentukan kristal es pada
tanaman untuk melindungi mereka dari kerusakan embun beku, membersihkan tumpahan
minyak secara lebih efisien, dan sampah membusuk
C. KESIMPULAN
Dalam
perkembangan Bioteknologi Molekuler tidak akan pernah lepas dari peran Rekayasa
Genetika yang menjadi awal dan batu loncatan untuk semua bioteknologi molekuler
yang telah kita rasakan saat ini. Jadi rekayasa genetika memiliki peran yang
sangat penting dalam proses perkembangan bioteknologi molekuler yang sampai
saat ini banyak digunakan di seluruh dunia IPTEK, DAN
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah metode in vitro yang digunakan untuk
mensintesis sekuens tertentu DNA dengan menggunakan dua primer oligonukleotida
yang menghibridisasi pita yang berlawanan dan mengapit dua target DNA.
Tahapan-Tahapan Polymerase Chain Reaction (PCR), denaturasi DNA templat,
penempelan (annealing) primer, dan polimerisasi (extension) rantai DNA.
Komponen-Komponen Polymerase Chain Reaction (PCR), Enzim DNA Polymerase: enzim
Taq DNA polymerase yang memiliki keaktifan pada suhu tinggi; Primer merupakan
oligonukleotida pendek rantai tunggal yang mempunyai urutan komplemen dengan
DNA templat yang akan diperbanyak. Panjang primer berkisar antara 20-30 basa;
Reagen lainnya berupa dNTP untuk reaksi polimerisasi, dan buffer yang
mengandung MgCl2. Variasi dari Polymerase Chain Reaction (PCR) seperti: Alel-spesifik
PCR, Polymerase Cycling Assembly, Asymmetric PCR, Hot Start PCR, PCR spesifik
Intersequence, Inverse PCR, Mediated PCR Ligasi, dll. Manfaat Polymerase Chain
Reaction (pcr), yaitu: amplifikasi urutan nukleotida, menentukan kondisi urutan
nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi, bidang kedokteran forensik, melacak
asal-usul sesorang dengan membandingkan DNA “finger print”.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
..................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................
PENDAHULUAN
........................................................................
ISI..................................................................................................
KESIMPULAN
.................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
............................................................
DAFTAR PUSTAKA
- Anonim, 2011. PCR (Polimerase Chain Reaction).
Diperoleh dari: www. http://www.medicinenet.com. Diakses pada 5 April
2011.
- Campbell dan Farrell. 2008. Biochemistry Sixt Edition.
Brooks/cole. Kanada.
- Elrod,S., dan William S. 2011. Genetika edisi 4.
Penerbit Erlangga. Jakarta.
Mahmuddin, 2010. Polimerase Chain Reaction (PCR). Diperoleh
dari : www.
No comments:
Post a Comment